Minggu, 01 Juni 2014

Perkembangan Perguruan Tinggi Islam



Urgensitas pendidikan bagi perkembangan peradaban bangsa nampak disadari oleh masyarakat Islam Indonesia. Sebagai penduduk mayoritas Negara Indonesia, mereka berupaya secara maksimal agar memiliki institusi untuk mencetak generasi muslim Indonesia yang intelek. Berbagai upaya telah mereka lakukan diantaranya membentuk madrasah – madrasah sampai kepada Perguruan Tinggi Islam, dengan tujuan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi – potensi yang terdapat pada masyarakat Islam. Perlu diketahui bahwa Pendidikan Islam di Indonesia telah memberikan warna baru bagi perkembangan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan Islam di Indonesia mulai berkembang sejak sebelum kemerdekaan bangsa ini terwujud. Sebagai bukti konkritnya, Islam telah merintis Sekolah Tinggi Islam (STI) sebagai respon yang tepat menanggapi keadaan masyarakat Islam Indonesia pada saat itu. Hal ini dapat dijadikan sebuah solusi guna memajukan peradaban bangsa Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan.
Adapun Sekolah Tinggi Islam (STI) ini dalam perjalanannya, mengalami berbagai perubahan dan perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Dimulai dari Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jaman Jepang, sebagai respon keinginan umat Islam untuk mempelajari agama, sampai kepada terbentuknya Universitas Islam Negeri yang ada sekarang ini, sebagai sarana untuk membentuk sumber daya manusia yang mampu berkompetisi, guna menyongsong milennium baru dengan persaingannya yang semakin ketat.
Periodesasi dan Perkembangan Perguruan Tinggi Islam (STI) di Indonesia
Sebelum Indonesia merdeka, pada tahun 1938 di Jawa juga sudah muncul gagasan untuk membentuk Sekolah Tinggi Islam, yang di cetuskan oleh Dr. satiman di Majalah PM No.15, yang terkenal dengan istilah “pesantren luhur”, sebagai tempat mendidik para mubaligh yang intelek. Meskipun gagasan ini disambut baik, dengan diadakannya musyawarah tiga badan pendiri sekolah tinggi di Jakarta, Solo dan Surabaya. Namun gagasan ini terhambat karena penjajahan Jepang pada saat itu. Usaha umat Islam akhirnya terwujud kembali, dengan terbentuknya Sekolah Tinggi Islam, Sekolah Tinggi ini merupakan sekolah tinggi pertama di Indonesia, yang bertujuan untuk mencetak para ulama yang intelek. Sekolah Tinggi ini berada di Minangkabau yang berdiri pada tanggal 9 Desember 1940, atas prakarsa Mahmud Yunus sebagai ketua persatuan guru – guru agama Islam (PGAI) di Padang. Namun sekolah ini hanya berjalan kurang lebih dua tahun lamanya. Hal ini dikarenakan penjajahan Jepang atas Indonesia, yang tidak mengijinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam. Namun atas tekad yang kuat dari umat Islam untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI), maka berdirilah pada bulan Juli 1945, atas inisiatif para pemimpin Islam dalam yayasan Studi Islam Jakarta, yang diketuai Moh. Hatta dan M. Natsir dengan anggota yang terlibat antara lain KH Wahid Hasyim, KH Mas mansyur, KH Fathurahman Kafrawi dan KH. Abdul Kahar Muzakkir.
Namun akibat terjadinya pergolakan politik yang menyebabkan berpindahnya pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta, STI pun ikut berpindah ke Yogyakarta. dan yang resmi berganti nama pada tanggal 22 Maret 1948 menjadi Universitas Islam Indonesia (UII), dengan tambahan Fakultas – Fakultas baru. Sehingga berjumlah 4 Fakultas, antara lain: 1) Fakultas Agama; 2)Fakultas Hukum; 3) Fakultas Ekonomi; 4) Fakultas Pendidikan.
Setelah Indonesia merdeka pusat pemerintahan kembali ke Jakarta, pemerintah menawarkan kepada UII untuk dinegerikan. Dan UII pun menerima dengan syarat berada di bawah naungan Departemen Agama. Sehingga yang bisa dinegerikan hanya satu Fakultas yaitu Fakultas Agama dengan PP NO. 4 Tahun 1950 yang ditandatangani Presiden pada tanggal 14 Agustus 1950 dan diserahkan kepada pemerintah dengan nama baru, yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Sehingga UII tidak lagi memiliki Fakultas Agama.
Selain itu para pemimpin Islam juga mendirikan Universitas Islam di Solo (UIS) pada tanggal 22 Januari 1950, yang kemudian pada tanggal 20 Februari 1951 disatukan dengan UII dengan nama Universitas Islam Indonesia.
Namun, setelah berjalan beberapa tahun, kemampuan PTAIN di Yogyakarta, tidak memadai lagi untuk menampung minat calon mahasiswa Islam Indonesia. Selain itu, jumlah guru agama kuantitasnya belum memenuhi standar yang dibutuhkan pada saat itu, maka untuk solusinya dibentuklah pada tanggal 1 Juni 1957 Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta, berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1957, yang terdiri dari dua jurusan, yaitu: Pendidikan Agama dan Sastra. Selanjutnya ketika Departemen Agama membutuhkan banyak tenaga kerja seperti Hakim dan tenaga ahli agama, Maka ADIA menambah jurusan, yaitu jurusan Hakim Agama. Namun ADIA merupakan Sekolah Tinggi Islam yang hanya baru dapat mencetak tenaga pengajar dan pegawai di lingkungan Departemen Agama saja.
Dalam perkembangannya terjadi perpaduan yang sangat hebat dalam perguruan Tinggi Islam di Indonesia, yaitu bersatunya PTAIN di Yogyakata dengan ADIA di Jakarta menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Hal ini dilatarbelakangi oleh keinginan Gubenur Aceh membuat perguruan tinggi Islam dan umum untuk pemulihan keamanan. Maka disetujui oleh presiden, namun dalam perealisasiannya terjadi perebutan pelaksanaan antara menteri P dan K dengan Menteri Agama. Maka diadakan perundingan yang memutuskan hanya Departemen P dan K yang berhak mengelola Universitas sedangkan Depatemen lainya hanya dibolehkan mengelola “Akademi Dinas”. Dan keluar PP No.11 Tahun 1960, yang membentuk IAIN . Pada awalnya IAIN terbagi menjadi dua bagian, di Jakarta dan Yogyakarta, yang keduanya menjadi koordinator pusat untuk fakultas – fakultas yang berada di daerah.
Namun setelah berkembang fakultas – fakultas yang berada di daerah menggabungkan diri, dengan syarat memiliki sekurang – kurangnya tiga fakultas. Hal ini dapat dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden No. 27 Tahun 1963. Dan pada perkembangan selanjutnya, bagi fakultas yang tidak memenuhi syarat menjadi IAIN, pada tahun 1997 dibentuk menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), berdasarkan KEPPRES No. 11 tahun 1997.
Setelah beberapa puluh tahun eksistensi IAIN dengan ilmu – ilmu Agamanya, Maka timbul gagasan baru untuk menambah ilmu – ilmu umum bagi para mahasiswanya. Gagasan ini merupakan ide dari MENAG Tarmidzi Taher yang dicoba untuk didiskusikan dengan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Pada Saat itu, Harun Nasution, yang sebelumnya juga sudah memikirkan hal tersebut. Hal ini didasarkan atas kebutuhan umat yang semakin berkembang dengan pola pikir yang maju, pada era bertekhnologi mutakhir. Sehingga yang dibutuhkan Masyarakat tidak hanya ilmu agama melainkan sains.
Gagasan tersebut baru terealisasi, berdasakan KEPPRES No. 31 Tahun 2002, yang merubah status IAIN Syarif Hidayatullah-Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta. UIN berupaya mengembalikan masa kejayaan Islam dengan mencetak mahasiswa- mahasiswa yang memiliki keluhuran moral, kedalaman spiritual dan kecerdasan intelektual serta kematangan profesional. Sehingga dapat menjadi pusat keunggulan studi dan pemikiran Islam.

Sistem Perguruan Tinggi Islam Indonesia
Periode Sekolah Tinggi Islam (STI)
Sekolah Tinggi Islam ini terdiri dari dua Fakultas, yaitu :
Fakultas Syari’ah dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab. Adapun materi pelajarannya sebagai berikut, Ilmu Agama (Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Ilmu Kalam), Bahasa Arab ( sharaf, adabul lughah, mengarang dan menghafal serta muthala’ah), pendidikan,mantik, tarikh, sosiologi, bahasa Indonesia, Inggris dan Belanda.
Periode Peguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN)
Berdasarkan Peraturan bersama antara Menteri Agama Dan menteri P.P.K, menyatakan bahwa, lama belajar di PTAIN selama 4 tahun, dengan rincian sebagai berikut:
Tingkat I, Propaedeuse selama 1 tahun, dengan pelajaran : Bahasa Arab, Pengantar Ilmu Agama, Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Ilmu Kalam, Tingkat II, kandidat selama 1 tahun dengan berjenis Balaureat selama 1 tahun; di akhiri ujian Bakalaureat dan Kandidat dengan pelajaran: Bahasa Arab, Mantik, Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Perbandingan Agama. Tingkat III Doktoral selama 2 tahun dan diakhiri ujian Dokoral, dengan pelajaran: Tarbiyah, yaitu: Bahasa Arab, Tafsir, Hadis, Ilmu Jiwa dan Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam), Dakwah, yaitu: Bahasa Arab, Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir dan Hadis serta Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam), Qadla’, yaitu: Fiqih, Ushul fiqih, Tafsir, Pengantar Hkum Asas – asas hukum publik dan privat serta Salah satu pelajaran (Filsafat, Akhlak, Tasawuf dan Ilmu Kalam).
Periode Akademi Dinas ilmu Agama (ADIA)
ADIA bertujuan untuk mencetak ahli didik untuk sekolah lanjutan. Adapun Akademi ini terbagi menjadi dua tingkat pendidikan, yaitu Semi Akademi, lama belajar 3 tahun, dengan jurusan pendidikan Agama dan sastra Arab. Setelah itu dilanjutkan ke tingkat selanjutnya, yaitu akademi dengan lama belajar 2 tahun dengan jurusan pendidikan Agama dan sastra Arab. Bagi lulusan semi akademi hanya berhak menjadi guru bahasa arab saja sedangkan lulusan akademi berhak mendapat ijazah ahli agama.
Periode Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
IAIN tempatnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Yogyakarta, Fakultas Ushuluddin, dengan 4 jurusan: Dakwah, Filsafat, Tassawuf dan Perbandingan Agama dan Syari’ah, dengan 3 jurusan: tafsir hadits dan Fiqih.
2. Jakarta, Fakultas Adab, dengan 4 jurusan: Sastra Arab, Persia, Urdu dan Sejarah Kebudayaan Islam dan Tarbiyah, dengan 3 Jurusan: Pendidikan Agama, keguruan dan Khusus (Imam tentara).
Adapun lama belajarnya selama 5 tahun, dengan tingkatan sebagai berikut:
Tingkat I, Propaedeuse selama 1 tahun, Tingkat II, kandidat selama 1 tahun, Tingkat III, Bakalaureat selama 1 tahun; di akhiri ujian Bakalaureat (Sarjana Muda) dan Tingkat IV, Doktoral selama 2 tahun dan diakhiri ujian Dokoral (Sarjana).
Periode Unirversitas Islam Negeri (UIN)
UIN merupakan Universitas yang mampu mengkonversikan ilmu agama dengan ilmu umum (sains). Maka UIN memiliki peran ganda mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang bernuansakan agama. Sehingga UIN menjadi lembaga pendidikan tinggi yang mengintegrasikan keislaman, keilmuan dan keindonesia serta wawasan global. UIN berupaya menjadi Perguruan Tinggi Islam di Indonesia yang memiliki kualitas pemberdayaan dan pengembangan akademik, administrasi, pelayanan dan seluruh komponen berikut perangkat kerjanya secara profesinal dan optimal.
Adapun Fakultasnya terdiri dari: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Adab dan Humaniora, Ushuludin dan filsafat, Syari’ah dan Hukum, Dakwah dan Komunikasi, Dirasat Islamiyah, Psikologi, Ekonomi dan Ilmu Sosial, Sains dan Tekhnologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta Program Pascasarjana, Magister dan Doktor yang berkonsentrasi kepada bidang ; Pemikiran Islam, Syari’ah, Pendidikan Islam, Sejarah dan Peradaban Islam, Tafsir – Hadis, Bahasa dan Sastra Arab, Dakwah dan Komunikasi, Ekonomi Islam dan Interdisiplinary Islamic Studies.

Penutup
Maka dapat disimpulkan bahwa adanya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia merupakan murni gagasan umat Islam yang mampu direalisasikan. Sehingga dapat berkembang secara signifikan, dari mulai awal terbentuknya Sekolah Tinggi Islam sampai menuju kepada Universitas Islam Negeri. Hal ini merupakan bukti konkrit sumbangan umat Islam bagi bangsa Indonesia, sekaligus sebagai sarana masyarakat Islam untuk mencetak intelektual muslim yang mampu menguasai ilmu – ilmu agama dan sains, sebagaimana yang terdapat pada masa lampau di zaman klasik, seperti: Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina serta intelektual muslim lainnya. maka oleh karena itu sudah sepatutnya kita memberikan kontribusi yang jelas bagi pendidikan Islam Indonesia, dengan peralisasian sistem yang ada dan mengadakan inovasi guna mengembangkan pendidikan Indonesia khususnya pendidikan Islam.
Demikian makalah ini kami susun. Meskipun kami sadari masih terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penulisan maupun uraian materi. Namun kami berharap makalah ini dapat bermanfaat, untuk memotisivasi diri dalam mendalami sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Asrohah. Hanun, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Logos, 1999

Azra. Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta; Logos,2000

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1995

Hasjmy. A., Mengapa Umat Islam mempertahankan Pendidikan Agama, Jakarta; Bulan Bintang, 1979

Jabali. Fuad dan Jamhari, IAIN Modernisasi Islam di Indonesia, Jakarta; Logos Wacana Ilmu, 2002

Pedoman Akademik UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta 2005-2006

Sumardi. M, Sejarah Singkat Pendidikan Islam di Indonesia;1945-1975, Jakarta;Dharma Bhakti, 1978

Sunanto. Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, Jakarta; Raja Grafindo, 2005

UIN Jakarta, Proses Perubahan IAIN Menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Rekaman Media Massa, Jakarta; UIN Jakarta Press, 2002

Yunus. Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta; Hidakarya, 1989




·          
·        
  •  
0 komentar:
Post a Comment
Share it
  • BloggerHack
  • PBT
About Me
My Photo
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Muhamad Fauzi was born in Pangkalan Jati, Depok, Indonesia and raised to a Batavian parents. He graduated from Islamic Education department at Islamic State University of Syarif Hidayatullah Jakarta.
Muhamad Fauzi. Powered by Blogger.
Followers
Flag's Visitors
free counters
Live Trafic

Selasa, 20 Mei 2014

MAKALAH MOTIVASI



I.                   PENDAHULUAN
Motivasi adalah suatu dorongan terhadap diri kita agar kita melakukan sesuatu hal. Dorongan yang kita dapat itu bisa bersumber dari mana saja, entah itu dari diri kita sendiri atu pun dari hal atau orang lain. Dorongan yang kita sebut motivasi itu juga yang menjadi suatu sumber tenaga dalam kita mengerjakan suatu hal agar kita mencapai suatu tujuan yang kita inginkan. Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerjasama secara produktif sehingga dapat mencapai dan mewujudkan tujuan perusahaan yang telah ditentukan. Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan, dan mendukung prilaku manusia supaya mau bekerja sama secara giat sehingga mencapai hasil yang optimal. Suatu perusahaan dapat berkembang dengan baik dan mampu mencapai tujuannya, karena didasari oleh motivasi.
II.                RUMUSAN MASLAH
A.    Apa pengertian motivasi?
B.     Apa saja teori – teori dalam motivasi?
C.     Apa saja jenis – jenis motivasi?
D.    Bagaimana peranan motivasi dalam belajar dan pembelajaran?
E.     Bagaimana hubungan antara motivasi dengan semangat kerja?
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Motivasi

            Motivasi berasal dari kata-kata ‘movere’ yang berarti dorongan. Dalam bahasa inggris biasa disebut dengan ‘motivation’. Motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha menimbulkan dorongan ( motif ) pada individu ( kelompok ) agar bertindak.
            Pendapat yang lain mengatakan bahwa motivasi adalah kehendak atau dorongan untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dirasakan. Motivasi juga bisa diartikan sebagai proses yang menyebabkan tingkah laku seseorang menjadi bergairah, terarah, dan tidak mudah putus asa.[1]
            Motivasi sendiri ialah keinginan untuk berbuat sesuatu. Motivasi juga merupakan keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan atau sesuatu yang menjadi dasar atau alasan seseorang berperilaku. Sedangkan motivasi kerja dapat diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia terdorong untuk bekerja. Motivasi kerja juga merupakan dorongan untuk melakukan dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan cepat dan bersemangat.[2]
            Motivasi seseorang ditentukan oleh intensitas motifnya. Motivasi bisa berasal dari dalam diri maupun luar diri seseorang. Dalam memotivasi bawahannya, manajer atau leader berhadapan dengan hal yang mempengaruhi orang dalm pekerjaan, yaitu kemauan dan kemampuan. Kemauan dapat diatasi dengan pemberian motivasi, sedangkan kemampuan dapat diatasi dengan mengadakan diktat. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa kinerja manusia yang tampak dipengaruhi oleh fungsi motivasi dan kemampuannya.[3]
Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja dengan memberikan semua kemampuan dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan sekolah / lembaga. Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu karyawan mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.
B.     Teori – Teori Motivasi
1.      Teori Herzberg
Federick Herzberg (1950), seorang Profesor Ilmu Jiwa pada Universitas di Cleveland, Ohio, mengemukakan Teori Motivasi Dua Faktor atau Herzberg’s Two Factors Motivation Theory atau sering juga disebut Teori Motivasi Kesehatan (Faktor Higienis). Herzberg mengumpulkan data mengenai sikap kerja karyawan di ratusan perusahaan. Dari riset itu, ia menarik kesimpulan bahwa individu mempunyai dua kategori kebutuhan yang mempengaruhi kepuasan atau ketidakpuasan dalam pekerjaan. Faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan kerja berbeda dan terpisah dari faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja.
Pertama kebutuhan akan kesehatan atau kebutuhan akan pemeliharaan atau maintenance factor. Maintenance factor (faktor pemeliharaan) berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman dan kesehatan badaniah.Kebutuhan kesehatan merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi. Misalnya orang lapar akan makan, kemudian lapar lagi, lalu makan, dan seterusnya.
Faktor-faktor pemeliharaan meliputi balas jasa, kondisi kerja fisik, kepastian pekerjaan, suvervisi yang menyenangkan, mobil dinas, rumah dinas, dan macam-macam tunjangan lain. Hilangnya faktor pemeliharaan dapat menyebabkan timbulnya ketidak puasan (dissatisfiers) dan tingkat absensi serta turnover karyawan akan meningkat. Faktor-faktor pemeliharaan perlu mendapat perhatian yang wajar dari pimpinan agar kepuasan dan kegairahan bekerja bawahan dapat ditingkatkan.
Kedua faktor pemeliharaan yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang. Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik, kepuasan kerja (job content) yang apabila terdapat dalam pekerjaan akan menggerakan tingkat motivasi yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi pekerjaan yang baik. Jika ingin memotivasi orang pada pekerjaannya, Herzberg menyarankan untuk menekankan pada pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan kerja itu sendiri atau hasil langsung yang diakibatkannya, misalnya: peluang promosi, pertumbuhan personal, pengakuan , tanggung jawab, dan prestasi. Pemuasan ketegori pertama hanya berguna untuk mencegah ketidakpuasan kerja dan tidak dapat dipakai untuk menciptakan kepuasan kerja. Bagi Herzberg, ketiadaan ketidakpuasan kerja belumtentu berarti ada kepuasan kerja.
Menurut Herzberg cara terbaik untuk memotivasi karyawan adalah dengan memasukkan unsur tantangan dan kesempatan guna mencapai keberhasilan dalam perkerjaan mereka. Penerapannya dengan pengayaan pekerjaan (job enrichement) yaitu suatu teknik untuk memotivasi karyawan yang melibatkan upaya pembentukan kelompok-kelompok kerja natural, pengkombinasian tugas-tugas, pembinaan hubungan dengan klien, pembebanan vertikal dan pembukaan saluran balikan. Teknik ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tingkat tinggi karyawan. Pengayaan pekerjaan ini merupakan upaya menciptakan motivator seperti kesempatan untuk berhasil dalam pekerjaan dengan membuat pekerjaan lebih menarik dan lebih menantang. Hal ini sering dapat dilakukan dengan memberikan otonomi yang lebih besar kepada karyawan dan memberikan kesempatan lebih banyak kepada karyawan untuk terlibat dalam perencanaan dan pengawasan yang biasanya dilakukan oleh supervisor.
Menurut hasil penelitian Herzberg ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memotivasi bawahan yaitu :
a. Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang mencakup perasaan berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri dan adanya pengakuan atas semua itu.
b. Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama pada faktor yang bersifat embel-embel saja dalam pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat dan lain-lain sejenisnya.
c. Karyawan akan kecewa bila peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.
Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
1)                  Kebutuhan Fisiologis
2)                  Kebutuhan Keamanan
3)                  Kebutuhan Sosial
4)                  Kebutuhan Pengakuan
5)                  Kebutuhan Aktualisasi Diri
Dalam teori ini saya mengambil daerah ibukota yaitu DKI Jakarta. Di Jakarta terbagi 5 wilayah, yaitu : Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.
1.      Kebutuhan Fisiologis
Yaitu kebutuhan seperti makan, minum, tempat tinggal, dll. Merupakan kebutuhan yang dianggap sebagai titik awal kebutuhan manusia yang sering juga disebut sebagai tuntutan fisik. Dalam kebutuhan ini di daerah DKI Jakarta mungkin sudah tercapai karna dengan bantuan pemerintah yang mengadakan program Beras Miskin (RASKIN) kepada orang-orang yang kurang mampu. Dalam program tersebut pemerintah menggunakan produk beras BULOK (Buatan Lokal) yang harganya cukup murah untuk di konsumen kepada masyarakat di DKI Jakarta yang kurang mampu. Produk dalam kebutuhan fisiologis ini adalah bahan konsumsi pokok. Oleh sebab itu masyarakat di daerah DKI Jakarta kebutuhan fisiologis nya sudah hampir tercapai.
2.      Kebutuhan Keamanan
Ketika kebutuhan fisiologis sudah terpuaskan, maka akan timbul suatu bidang kebutuhan yang secara garis besar dinyatakan sebagai kebutuhan akan keamanan. Di Jakarta sendiri kebutuhan ini dibilang masih kurang karna masih banyak kriminalitas yang masih sering membahayakan, sehingga banyak orang-orang di Jakarta menggunakan jasa security (satpam). Jasa-jasa security sekarang banyak yang bermunculan akibat banyak nya permintaan. Jasa security ini biasanya digunakan di perkantoran, mall, rumah sakit, perumahan, dan tempat-tempat yang membutuhkannya. Jasa security banyak di gunakan di Jakarta pusat dan selatan karna di sana banyak perkantoran, mall dan perumahan. Selain jasa security dalam kebutuhan keamanan juga membutuhkan jasa lain seperti : alarm perumahan, asuransi (kesehatan, jiwa, pendidikan), dan sekolah.
2.      Kebutuhan Sosial
Ketika kebutuhan fisiologis dan keamanan sudah terpenuhi, maka akan timbul kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan kebersamaan. Kebutuhan ini di Jakarta sudah cukup maju sebab dengan perkembangan teknologi yang amat baik di Jakarta itu sendiri memudahkan masyarakat memperluas jaringan social antara manusia lain contonya internet. Dengan menggunakan internet manusia bisa bersosialisasi dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Contohnya situs biro jodoh yang mempertemukan seseorang dan membantu mencari cinta. Di Jakarta sendiri banyak wilayah yang menggunakan wifi untuk para masyarakat bisa menggunakan internet secara gratis. Contoh produk kebutuhan social : biro jodoh, club, tempat rekreasi keluarga, chat line, dsb
4.      Kebutuhan Pengakuan
Umumnya orang akan menginginkan kehidupan yang stabil dan kokoh, punya penilaian diri yang tinggi, harga diri, dan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertama adalah keinginan akan kemampuan, prestasi, penghasilan cukup, kenyamanan hidup, kebebasan dan berhak menentukan pilihan sendiri. Kedua adalah keinginan akan reputasi dan prestise, pengakuan, perhatian dari orang lain, dan penghargaan. Di Jakarta sendiri contohnya para anggota DPR, mereka mempunyai jabatan yang bagus, dihargai oleh masyarakat dan mempunyai kemampuan prestasi yang bagus untuk mengajak masyarakat untuk memilih beliau. Selain memiliki reputasi yang bagus Para DPR juga mendapat tunjangan rumah mewah, mobil mewah dan lain-lain. Contoh produk kebutuhan pengakuan : fashion, mobil mewah, rumah mewah, kosmetik, furniture, sekolah, dsb
6)      Kebutuhan Aktualisasi Diri
            Setelah semua kebutuhan terpenuhi dan berada pada posisi nyaman, berkecukupan dan bekerja sesuai dengan keinginannya maka pada diri seseorang akan muncul kebutuhan akan aktualisasi diri. Dalam kebutuhan ini membuat kepuasan tersendiri kepada diri kita sendiri. Contohnya para pengusaha di Jakarta, mereka bekerja dengan suka cita untuk mendapatkan keuntungan yang berlimpah sehingga mereka akan mendapatkan kepuasan tersendiri dari

4. Teori X dan Teori Y. Mc. Grego
Douglas Mc. Gregor adalah seorang psikolog sosial Amerika yang memimpin suatu varietas proyek riset dalam hal motivasi dn tingkah laku umum dari para anggota organisasi. Mc. Gregor adalah seorang guru besar manajemen pada lembaga teknik massachusetts (massachusetts institute of technology). Mc. Gregor  terkenal dengan teori X dan teori Y-nya, dalam bukunya The Human Side of Enterprise (Segi Manusiawi Perusahaan). Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas dapat dibedakan atas manusia penganut teori X (teori tradisional) dan manusia penganut teori Y (teori demokratik).
Teori X
1.      Rata-rata karyawan malas dan tidak suka bekerja.
2.      Umumnya karyawan tidak berambisi mencapai prestasi yang optimal dan selalu menghindarkan tanggung jawabnya dengan cara mengkambinghitamkan orang lain.
3.      Karywan lebih suka dibimbing, diperintah, dan diawasi dalam melakukan pekerjaannya.
4.      Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan tidak mempeduikan tujuan organisasi.
Menurut teori X ini untuk memotivasi karyawan harus dilakukan dengan cara pengawasan yang ketat, dipaksa, dan diarahkan supaya mereka mau bekerja sungguh-sungguh. Jenis motivasi yang diterpakan adalah cenderung kepada motivasi negatif yakni dengan menerapkan hukuman yang tegas.
Tipe kepemimpinan teori X adalah otoriter sedangkan gaya kepemimpinannya berorientasi pada prestasi kerja.
Teori Y
1.      Rata-rata karyawan rajin dan menganggap sesungguhnya bekerja sama wajarnya dengan bermain-main dan beristirahat. Pekerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak betah dan merasa kesal jika tidak bekerja.
2.      Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi untuk maju dengan mencapai prestasi kerja yang optimal.
Mereka kreatif dan inovatif mengembangkan dirinya untuk memecahkan persoalan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan pada pundaknya. Jadi, mereka selalu berusaha mendapatkan metode kerja yang terbaik.
3.      Karyawan selalu berusaha mencapai sasran organisasi dan mengembangkan dirinya untuk mencapai sasaran itu. Organisasi seharusnya memungkinkan karyawan mewujudkan potensinya sendiri dengan memberikan sumbangan pada tercapainya sasaran perusahaan.
Menurut teori Y ini untuk memotivasi karyawan hendaknya dilakukan dengan cara peningkatan partisipasi karyawan, kerja sama, dan keterikatan pada keputusan. Tegasnya, dedikasi dan partisipasi akan lebih menjamin tercapainya sasaran. Mc. Gregor memandang suatu organisasi efektif sebagai organisasi apabila menggantikan pengawasan dan pengarahan dengan integrasi dan kerja sama serta karyawan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
C. Jenis – Jenis Motivasi
            Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi positif dan motivasi negatif.
1.      Motivasi positif
Motivasi positif maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi diatas prestasi standar. Denagn motivasi positif, semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang baik – baik.[4]
2.      Motivasi negatif
Motivasi negatif, maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan standar mereka akan mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini, semangat kerja bawahan dalam jangka waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untu jangka panjang dapat berakibat kurang baik.
Dalam praktek, kedua motivasi diatas sering digunakan oleh suatu perusahaan. Penggunaannya harus tepat dan seimbang supaya dapat meningkatkan semangat kerja karyawan.
D. Peranan Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran
Motivasi pada dasarnya dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan
perilaku individu, termasuk perilaku individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran, antara lain dalam (a) menentukan hal-hal yang dapat menjadikan penguat belajar,(b) memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, (c) menentukan ketekunan belajar.
1.      Peran motivasi dalam menentukan penguatan belajar
Motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang anak yang belajar dihadapan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya. Sebagai contoh, seorang anak akan memecahkan materi matematika dengan bantuan tabel logaritma. Tanpa bantuan tabel tersebut anak itu tidak dapat menyelesaikan tugas matematika. Dalam kaitan itu anak berusaha mencari buku tabel matematika. Upaya untuk mencari tabel matematika nerupakan peranan motivasi yang dapat menimbulkan penguatan belajar.
Peristiwa di atas dapat dipahami bahwa sesuatu dapat mejadi penguat belajar untuk seseorang, apabila dia sedang benar benar mempunyai motivasi untuk belajar sesuatu. Dengan perkataan lain, motivasi dapat menentukan hal-hal apa  di lingkungan anak yang dapat memperkuata perbuatan beajar. Untuk seorang guru perlu memahami suasana itu, agar dia dapat membantu siswanya alam memilih faktor-faktor atau keadaan yang ada dalam lingkunga siswa sebagai bahan penguat belajar. Hal itu tidak cukup dengan memberitahukan sumber-sumber yang harus dipelajari, meainkan yang lebih penting adalah mengaitkan isi pelajaran dengan perangkat apapun  yang berada paling dekat dengansiswa di lingkungannya
2.      Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar
Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau di nikmati manfaatnya bagi anak. Sebagai contoh, anak akan temotivasi belajar lektronik karena tujuan belajar elektronik itu dapat melahirkan kemampua anak dalam bidang elektronik. Dalamsuatu kesempatan misalnya anak tersebut diminta membetulkan radio yang rusak, danberkat pengalaman nya di bidang elektronik, maka radio tersbut menjadi baik setelah diperbaikinya. Dari pengalaman itu, anak makin hari makin termotivasi untuk belajar, karena sedikit anak sudah mengetahui makna dari belajar itu.
3.      Motivasi menentukan ketekunan belajar
Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mepelajarnya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Sebaliknya apabila seseorang kurang atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan lama belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan ketekunan belajar.
E.     Hubungan antara motivasi dengan semangat kerja
            Lazaruth mengatakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya semangat kerja seseorang dalam berorganisasi adalah perasaan puas, karena mereka merasa kesejahteraan material dan spiritualnya terpenuhi. Dengan diperolehnya kepuasan dalam memenuhi kegiatan dan cita – cita hidupnya, para pendidik akan bekerja lebih efektif  dan penuh semangat. Oleh sebab itu, para pemimpin harus berusaha memahami keinginan – keinginan dan cita – cita hidup para pendidik atau bawahan serta berusaha memenuhinya.
            Menurut Davis dan Newtron hampir semua perilaku sadar mempunyai motivasi. Untuk mencapai tujuan organisasi, prestasi dan semangat kerja dibutuhkan motivasi, maka tugas para manager adalah mengidentifikasi dan menggerakkan motivasi pegawai agar bersemangat dan berprestasi dalam melaksanakan tugasnya.  Dalam rangka membangun semangat kerja, Davis dan Filley berpendapat bahwa dasar pembangunan semangat kerja merupakan proses pengakomodasian kepentingan – kepentingan dan hal ini mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin. Pemimpin yang baik, harus dapat menyelaraskan kebutuhan – kebutuhan kelompok guna mengembangkan nilai – nilai dan sesuatu yang menarik bagi organisasi. Pemimpin yang baik harus dapat memotivasi bawahan untuk mencapai tujuan – tujuan tersebut. Dengan demikian, semangat yang baik dan tinggi disebabkan oleh daya motivasi yang diberikan pemimpin.[5]

IV.             KESIMPULAN
Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sedangkan teori – teori dalam motivasi yaitu : Teori X dan teori Y McGregor, teori kesehatan Herzberg, teori kebutuhan Maslow, teori keberadaan, keterkaitan, dan pertumbuhan Aldefer. Dan jenis – jenis motivasi ada dua yaitu, motivasi positif dan motivasi negatif. Peranan motivasi dalam pembelajaran yaitu menentukan hal – hal yang dapat dijadikan pembelajaran, memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, menentukan tekanan. Terkait hubungan antara motivasi dan semangat kerja yaitu seseorang akan semangat dalam melaksanakan tugasnya dengan baik apabila ia telah termotivasi oleh atasannya.
V.                PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat bagi penulis maupun pembaca, kami telah berusaha semaksimal mungkin mebuat makalah ini dengan segala keterbatasan kami, untuk itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat kami harapkan untuk makalah yang selanjutnya.




[1] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, ( Yogyakarta : Teras , 2009 ) hlm 268
[2] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, hlm 270
[3] Husaini Usman,  Manajemen , ( Jakarta : PT Bumi Aksara , 2009 ) hlm 250
[4] Malayu Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2000), hlm. 150 
[5] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, (Yogyakarta : TERAS, 2009), hlm. 272