1. Pengertian hadis ṣaḥīḥ
Kata ṣaḥīḥ secara bahasa diartikan sehat, merupakan lawan dari saqim (sakit atau
lemah). Yang dimaksud hadis ṣaḥīḥ adalah hadis yang sehat dan benar tanpa adanya
penyakit dan cacat.
Ulama berbeda pendapat mengenai pengertian Hadis ṣaḥīḥ, namun secara umum
pendapat mereka tidak memiliki perbedaan yang siginifikan. Di antara pendapat para
ulama tentang definisi hadis ṣaḥīḥ adalah sebagai berikut:
“Hadis yang sanadnya bersambung (tanpa putus), diriwayatkan oleh periwayat yang adil
dan sempurna ingatannya dari periwayat yang memiliki kualitas sepadan, tidak syaż dan
tidak ada „illat yang dapat mencederainya.
”Imam Nawawi dalam kitab Tadrib Ar-Rowy
mendefinisikan lebih ringkas, yaitu:
“Hadis yang sanadnya bersambung melalui orang-orang yang adil dan sempurna
ingatannya, tidak syaż dan tidak ada „ilat.
2. Syarat-Syarat Hadis Ṣaḥīḥ
Berdasarkan definisi hadis ṣaḥīḥ di atas, dapat dipahami bahwa syarat-syarat hadis
ṣaḥīḥ adalah sebagai berikut:
a. Sanadnya Muttaṣil
Maksudnya adalah semua periwayat isi hadis tersebut benar-benar mengambil
hadis secara langsung dari periwayat sebelumnnya, kemudian periwayat sebelumnnya
dari periwayat sebelumnya lagi hingga akhir sanad.
Untuk memastikan sebuah hadis diterima langsung oleh periwayat dari gurunya,
Imam Muslim mensyaratkan keduanya harus hidup satu generasi dan memungkinkan
saling bertemu. Sedangkan Imam Bukhari mensyaratkan keduanya harus benar-benar
pernah bertemu. Oleh karenanya, kitab Shahih Bukhari dianggap lebih utama karena
syaratnya lebih ketat.
b. Periwayatnya Adil
Adil adalah sebuah watak yang menjadikan seseorang selalu bertakwa dan
menjaga harga diri. Orang adil adalah seorang muslim, berakal sehat, tidak fāsiq dan
tidak jelek prilakunya (menjaga murūah).
Dalam menilai keadilan seorang periwayat, cukup dilakukan dengan salah satu
metode berikut:
1) Keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta‟dīl bahwa periwayat itu bersifat
adil.
2) Khusus mengenai periwayat hadis pada tingkat sahabat, mayoritas ulama sepakat
bahwa seluruh sahabat adalah adil.
c. Periwayatnya Ḍābiṭ
Maksudnya masing-masing periwayatnya memiliki daya ingat sempurna ketika
menerima hadis, kemudian menjaga isi hadis tersebut baik melalui hafalannya Dābiṭ shadran) atau tulisannya ( ābiṭ kitaban). Artinya, kapan pun hadis tersebut
dibutuhkan, dia dapat menunjukkan dengan cepat, baik melalui hafalan atau
tulisannya, dengan tanpa adanya perubahan dari saat menerima hadis pertama kali.
Adapun sifat-sifat ke ābiṭan periwayat, menurut para ulama, dapat diketahui melalui:
1) Kesaksian para ulama.
2) Berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat orang lain yang telah
dikenal ke dābiṭannya.
d. Tidak Syaż
Maksudnya ialah isi hadis (matan hadis) itu benar-benar tidak syaż. Dalam arti
tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lebih ṡiqah.
e. Tidak terdapat ‟illat
Maksudnya tidak ada sebab yang samar yang dapat menurunkan derajat keṣaḥīḥ-an hadis. „Illat hadis dapat terjadi pada sanad, matan, atau keduanya sekaligus.
Namun demikian, „illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad, seperti
menyebutkan muttaṣil terhadap hadis yang munqati‟ atau mursal.
3. Kedudukan Hadis Ṣaḥīḥ
Hadis ṣaḥīḥ sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi kedudukannya dari hadis
ḥasan. Karena itu apabila hadis ṣaḥīḥ bertentangan dengan hadis ḥasan, maka didahulikan
hadis ṣaḥīḥ.
Semua ulama sepakat menerima hadis ṣaḥīḥ sebagai sumber ajaran Islam atau
hujjah yang dapat digunakan untuk menentukan masalah akidah, hukum dan akhlak.
Hukum-hukum yang berdasarkan hadis ṣaḥīḥ harus diamalkan.
Tidak semua hadis ṣaḥīḥ dapat diriwatkan secara umum. Hal ini sesuai dengan apa
yang dikatakan oleh Ibnu Mas‟ud Ra. “Tidaklah kamu menyampaikan sebuah hadis pada
kaum yang akal mereka tidak mampu memahaminya melainkan akan menjdi fitnah
baginya”
4. Klasifikasi Hadis Ṣaḥīḥ
a. Hadis ṣaḥīḥ li żātihi
Hadis ṣaḥīḥ li żātihi adalah hadis yang memenuhi lima syarat keshahihan sebuah hadis
sebagaimana yang terhimpun dalam definisi hadis sahih dan contoh di atas.
b. Hadis ṣaḥīḥ li gairihi
Hadis ṣaḥīḥ li gairihi adalah hadis hadis hasan yang naik derajatnya karena ada jalur
periwayatan lain yang lebih kuat. Jalur periwayatan yang lebih kuat yang
menyebabkan naiknya derajat hadis hasan menjadi ṣaḥīḥ li gairihi dikenal dengan
istilah syahid atau muttabi
Dari uraian tersebut, hadis ṣaḥīḥ li gairihi didefinisikan sebagai berikut:
Hadis yang keadaan rawi-rawinya kurang Hafizh dan dhabit tetapi mereka masih
terkenal sebagai orang yang jujur maka derajatnya adalah ḥasan. Lalu didapati pada hadis
tersebut jalan (sanad) lain yang serupa atau lebih kuat, dan hal tersebut dapat menutupi
kekurangan yang ada pada hadis hasan tersebut.
Suatu Hadis ḥasan jika memiliki padanan hadis dengan sanad yang berbeda yang bisa
menguatkannya, maka derajatnya naik menjadi hadis ṣaḥīḥ ligairihi. Urutan derajat hadis
ṣaḥīḥ ligairihi adalah di bawah ṣaḥīḥ liżātihi dan di atas ḥasan liżātihi.
5. Tingkatan Derajat Hadis Ṣaḥīḥ
Kesahihan ditentukan oleh keadaan para rawinya (adil dan ābiṭ), ketersambungan
sanad-sanadnya, selamat dari kecacatan (illat) dan kejanggalan (syaż).
Terdapat tingkatan
atau martabat hadis sahih yang disebabkan oleh kualitas dan kapasitas sanad dan rawinya.
Tingkatan hadis sahih, antara lain:
a. Hadis Muttafaq Alaih
Adalah hadis yang sanadnya disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam
Muslim. Artinya Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui sanad yang sama dengan
sanad hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
b. Hadis Riwayat Bukhari sendirian
c. Hadis Riwayat Muslim sendirian
d. Hadis yang sanadnya memenuhi syarat ṣaḥīḥ Bukhari dan ṣaḥīḥ Muslim.
Adalah hadis yang tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim tetapi
diriwayatkan oleh Imam lain. Adapun rijāl sanadnya termasuk rijāl sanad yang
dikategorikan ṡiqah oleh Imam Bukhari dan Muslim.
e. Hadis yang sanadnya memenuhi syarat hadis ṣaḥīḥ menurut imam Bukhari, namun
Bukhari tidak meriwayatkannya dalam kitab ṣaḥīḥ-nya.
f. Hadis yang sanadnya memenuhi syarat hadis ṣaḥīḥ menurut imam Muslim, namun
Imam Muslim tidak meriwayatkannya dalam kitab ṣaḥīḥ-nya.
g. Hadis yang sanadnya ṣaḥīḥ menurut selain Imam Bukhari dan Muslim
seperti; ṣaḥīḥ
menurut Ibnu Hibban, ṣaḥīḥ menurut Ibnu Huzaimah, ṣaḥīḥ menurut Ibnu Majah,
ṣaḥīḥ menurut Imam al-Hakim, dan lain-lain tapi tidak ṣaḥīḥ menurut Bukhari dan
Muslim.
###
SOAL :
Setelah membaca materi, buatlah peta konsep materi " HADIS SAHIH"
*Soal ditulis di buku tulis*